Beranda | Artikel
Kisah Nabi Ibrahim Mendakwahi Bapaknya
8 jam lalu

Kisah Nabi Ibrahim Mendakwahi Bapaknya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 29 Dzulhijjah 1447 H / 15 Juni 2026 M.

Kajian Tentang Kisah Nabi Ibrahim Mendakwahi Bapaknya

Faedah kedua mengajarkan prinsip berdakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada objek dakwah (mad’u) wajib dilakukan secara bertahap atau bertingkat dan tidak disampaikan sekaligus. Selanjutnya, faedah ketiga menegaskan bahwa mengikuti wahyu merupakan satu-satunya jalan keselamatan bagi manusia.

Bahaya Mengikuti Seruan Setan dan Larangan Durhaka

Memasuki materi faedah keempat, dijelaskan bahwa mengikuti atau memenuhi seruan setan merupakan bentuk tindakan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Pengasih (Ar-Rahman). Oleh karena itu, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam mengucapkan perkataan kepada ayahnya sebagai bentuk peringatan keras agar menjauhi godaan setan. Peringatan tersebut diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا

“Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pengasih.” (QS. Maryam[19]: 44)

Poin pertama di dalam bab ini menegaskan keberadaan dalil atau nash yang sangat banyak, baik dari Al-Qur’an maupun hadits, yang melarang serta memberikan peringatan keras (tahdzir) kepada manusia dari bahaya tipu daya setan. Salah satu peringatan kolektif tersebut tercantum di dalam surah Fatir:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia menipu kamu dan janganlah sekali-kali setan yang pandai menipu, menipumu tentang Allah.” (QS. Fatir[35]: 5)

Istilah Al-Gharur yang termuat di dalam ayat tersebut merujuk langsung kepada sosok setan. Melalui nash ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan peringatan agar manusia tidak teperdaya oleh kesenangan duniawi yang semu maupun oleh bisikan-bisikan menyesatkan dari setan. Landasan perlawanan terhadap makhluk tersebut dipertegas pada ayat berikutnya:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fatir[35]: 6)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan rambu-rambu yang sangat jelas agar manusia memposisikan setan sebagai musuh yang nyata. Tujuan utama setan menyeru kelompok, pengikut, atau golongannya adalah semata-mata demi menyeret mereka bersama-sama menjadi penduduk api neraka, bukan untuk mengantarkan menuju surga.

Oleh karena itu, tindakan sebagian orang yang justru merasa senang, condong, bahkan bangga menjadi pengikut jalan setan merupakan keanehan yang nyata. Padahal, manusia dipastikan tidak akan pernah sanggup menahan dahsyatnya hawa panas siksaan api neraka. Hal yang lebih tragis adalah kenyataan bahwa pada hari kiamat kelak, setan sendiri akan menyatakan berlepas diri dan enggan bertanggung jawab atas kesesatan para pengikutnya di hadapan Mahkamah Allah ‘Azza wa Jalla.

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan sebuah metode pengajaran yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah membuat satu garis lurus yang panjang di atas tanah, lalu beliau bersabda:

هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ

“Ini adalah jalannya Allah.” (HR. Ahmad)

Setelah itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membuat beberapa garis pendek lain di sisi kanan dan sisi kiri garis lurus tersebut. Sembari menunjuk garis-garis pendek yang berpencar itu, beliau bersabda:

وَقَالَ هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ

“Ini adalah jalan-jalan yang berpencar, yang pada setiap jalur darinya terdapat setan yang menyeru kepadanya.” (HR. Ahmad)

Melalui ilustrasi visual tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian membacakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am[6]: 153)

Skema ini menunjukkan dengan jelas bahwa apabila manusia memilih untuk mengikuti jalan-jalan pendek yang bercabang di sisi kanan maupun kiri, manusia dipastikan keluar dari koridor jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengikuti langkah-langkah kaki setan tersebut secara otomatis dikategorikan sebagai tindakan memaksiati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjerumuskan diri ke dalam jurang perpecahan.

Poin kedua menjelaskan bahwa meskipun peringatan syariat (tahdzir) disampaikan dengan sangat kuat agar manusia tidak tunduk kepada setan, fakta di lapangan menunjukkan banyak manusia yang tetap memilih patuh. Sebagian manusia bahkan memperlakukan setan sebagai sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atas dasar pembangkangan tersebut, Allah ‘Azza wa Jalla melontarkan celaan yang keras di dalam Al-Qur’an:

أَفَتَتَّكِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

“Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Kahf[18]: 50)

Penegasan mengenai komitmen awal penciptaan manusia juga diungkit kembali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala demi mengingatkan anak cucu Adam di dalam surah Yasin:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu jangan menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu, dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Yasin[36]: 60-61)

Manusia diberikan peringatan mengenai sepak terjang setan yang rekam jejaknya telah berhasil menyesatkan sebagian besar generasi terdahulu. Kenyataan sejarah tersebut disampaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui firman-Nya:

وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebagian besar di antara kamu. Maka apakah kamu tidak memikirkan?” (QS. Yasin[36]: 62)

Poin ketiga mengulas kabar dari Allah ‘Azza wa Jalla di dalam kitab-Nya mengenai nasib tragis para pengikut setan di akhirat kelak. Ketika telah berada di dalam neraka, setan akan berpidato dan menyatakan berlepas diri secara total dari seluruh manusia yang dahulu mengikutinya di dunia.

Kenyataan ini menjadi hulu kerugian yang sangat besar bagi para pelaku maksiat. Selama hidup di dunia, para pengikut setan mungkin merasa sebagai figur yang kuat, hebat, pemberani, serta bebas melakukan apa saja tanpa batas. Namun, segala bentuk kenikmatan semu dan ego kehebatan tersebut dipastikan sirna begitu mereka dilemparkan ke dalam neraka, sementara pemimpin kesesatan mereka justru menolak untuk bertanggung jawab.

Pidato Setan di Dalam Neraka dan Sikap Berlepas Diri

Kepastian mengenai sikap berlepas diri dari setan terhadap para pengikutnya diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعَدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku; oleh sebab itu janganlah kamu mencela aku akan tetapi celalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrahim[14]: 22)

Pelajaran penting dari ayat ini adalah penegasan bahwa setan akan berlepas diri secara mutlak dari manusia yang mengikutinya. Setan mengakui keterbatasan dirinya yang tidak memiliki kekuasaan memaksa, melainkan hanya memberikan seruan keliru yang justru dipatuhi oleh manusia.

Kenyataan ini menjadi bukti betapa ruginya manusia yang memilih untuk mengikuti langkah-langkah setan. Allah ‘Azza wa Jalla melarang keras perbuatan mengekor tersebut dan memerintahkan manusia untuk konsisten mengikuti wahyu.

Komitmen memegang teguh wahyu merupakan satu-satunya jalan keselamatan. Implementasi dari prinsip ini adalah dengan menaati tuntunan para rasul, khususnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta mendalami Al-Qur’an dan hadits. Proses mempelajari ilmu syar’i ini harus dimulai dari tahapan dasar, seperti belajar membaca Al-Qur’an dari tingkatan kaidah iqra, menyempurnakan tajwid, membaca dengan tartil, hingga melangkah pada pemahaman maknanya.

Tujuan utama Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur’an adalah agar manusia memahami kandungan isinya serta mengerti hukum-hukum-Nya. Aktivitas mendalami Al-Qur’an dan hadits menuntut keikhlasan yang murni dari setiap hamba.

Tujuan menuntut ilmu agama bukanlah demi mengejar gelar akademik atau popularitas nama, melainkan murni untuk mengetahui hukum Allah ‘Azza wa Jalla. Pemahaman yang benar akan menuntun manusia agar dapat menjalani kehidupan di atas syariat dan menghindari tindakan melanggar batasan-batasan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Konsistensi Beramal dan Waspada Terhadap Media Sosial

Al-Qur’an dan hadits diturunkan untuk diamalkan agar setiap muslim memiliki amalan yang lurus di atas jalan Allah yang lempeng. Oleh karena itu, setiap muslim wajib konsisten belajar mendalami Al-Qur’an melalui pembacaan kitab tafsir, serta mempelajari hadits melalui kitab-kitab syarahnya, untuk kemudian diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari.

Waktu yang dimiliki tidak boleh dibuang sia-sia untuk aktivitas tidak bermanfaat di media sosial. Kelalaian di dalam berselancar di media sosial termasuk bagian dari tipu daya dan langkah-langkah setan yang sangat halus. Setan memiliki kecerdasan dan strategi yang tinggi untuk menyeret manusia secara perlahan agar malas dan menjauh dari majelis ilmu agama hingga waktu mereka habis tanpa faedah.

Tindakan mengikuti langkah-langkah setan dapat berupa keengganan untuk belajar agama akibat terlalu sibuk memperhatikan hal-hal yang sedang ramai dibicarakan di media sosial, termasuk menyaksikan perdebatan. Aktivitas berdebat tersebut, meskipun terkadang membawa tema agama, seringkali menjadi sarana penyesatan yang memalingkan manusia dari kegiatan membaca Al-Qur’an, menelaah hadits, mempelajari bahasa Arab, serta mendalami ilmu-ilmu agama secara terstruktur.

Dampak buruk dari jeratan setan ini membuat proses belajar seseorang tidak pernah selesai hingga tanpa disadari usia telah beranjak tua dan rambut mulai memutih. Kesadaran mengenai ketidakmampuan memahami agama sering kali baru muncul terlambat. Oleh karena itu, proses belajar agama menuntut fokus penuh tanpa terdistraksi oleh hal-hal yang tidak bermanfaat. Manusia wajib menaruh gawai dan meninggalkan media sosial sejenak demi mempelajari agama dengan benar.

Ketika seorang hamba belum mampu membaca Al-Qur’an dan memahami hadits serta belum mengerti hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada alasan logis yang membenarkan dirinya untuk menjauh dari ilmu dan tersibukkan oleh urusan duniawi. Penuntut ilmu harus fokus pada aktivitas tholabul ‘ilmi dengan dilandasi niat yang ikhlas. Menuntut ilmu agama bukan dilakukan demi mengejar ijazah, kelulusan, atau sekadar berbangga diri karena telah mendapatkan sanad, melainkan murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Keutamaan Niat yang Lurus dalam Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu keagamaan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan salah satu amalan yang paling utama di dalam syariat. Imam Ahmad bin Hambal menegaskan prinsip ini melalui perkataan beliau:

الْعِلْمُ لَا يَعْدِلُهُ شَيْءٌ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ

“Ilmu itu tidak ada yang dapat menandinginya bagi orang yang sahih (lurus) niatnya.”

Indikator dari niat yang sahih dan lurus adalah ketika seseorang bertujuan untuk menghilangkan kebodohan dari dalam dirinya sendiri, kemudian berusaha menghilangkannya dari orang lain. Proses belajar ini harus dilakukan secara kontinu tanpa bersikap santai, yakni dengan terus membaca Al-Qur’an, menelaah hadits, serta mempelajari kitab-kitab syarahnya secara fokus, meskipun dalam sehari hanya mampu menguasai satu ayat atau satu hadits beserta penjelasannya. Kewajiban mempelajari Al-Qur’an ini sejalan dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Berdasarkan landasan tersebut, para dai memiliki kewajiban utama untuk memberikan peringatan kepada umat mengenai hakikat permusuhan setan. Setan merupakan musuh nyata yang senantiasa berupaya menyeret manusia agar keluar dari jalan yang lurus demi menjauhkan mereka dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satu strategi setan adalah melalui metode tazyin, yaitu menghiasi perbuatan buruk seolah-olah tampak indah dan baik, serta mengesankan perbuatan baik seolah-olah tampak buruk dan membosankan.

Para dai di dalam menjalankan tugas dakwah ini wajib meneladani keteladanan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam saat mendakwahi ayahnya. Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam memberikan peringatan yang tulus kepada ayahnya:

يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا

“Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.” (QS. Maryam[19]: 44)

Ketidakberartian Nasab dan Kedekatan Tanpa Ketaatan

Memasuki pembahasan faedah kelima, dijelaskan sebuah kaidah syariat bahwa siapa yang tidak menaati rasul Allah dan tidak menyambut seruan dakwahnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menimpakan azab kepadanya di dunia dan di akhirat. Keputusan hukum ini berlaku mutlak tanpa memandang faktor kedekatan nasab maupun hubungan kekerabatan.

Ketentuan azab tersebut berlaku sama, baik terhadap status ayah dari seorang nabi, putra dari seorang nabi, paman dari seorang nabi, maupun istri dari seorang nabi. Faktor tunggal yang memberikan jaminan keselamatan bagi manusia di akhirat kelak hanyalah keimanan dan komitmen untuk mengikuti petunjuk rasul, bukan status hubungan darah. Seseorang yang memilih berada di dalam kekafiran tidak akan pernah mampu menyelamatkan dirinya dari keadilan azab Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Prinsip ini menggugurkan pemahaman keliru sebagian orang yang merasa aman dari dosa hanya karena memiliki kedekatan dengan seorang ustadz, kiai, atau tokoh agama. Kedekatan fisik tanpa dibarengi kesalehan pribadi sering kali ditumpangi oleh niat-niat buruk untuk memanfaatkan kepercayaan masyarakat demi melakukan tindakan penipuan.

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam telah memberikan teladan nyata dengan tetap memposisikan syariat di atas segalanya. Beliau secara konsisten memperingatkan ayahnya agar terhindar dari perbuatan maksiat kepada utusan Allah dan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kekhawatiran Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam tersebut diabadikan di dalam ayat:

يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

“Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, maka kamu menjadi kawan bagi setan.” (QS. Maryam[19]: 45)

Azar selaku ayah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam tidak merespon nasihat maupun dakwah yang disampaikan oleh putranya. Akibat pembangkangan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpakan azab dan menghinakannya di dalam neraka jahanam. Kabar mengenai nasib Azar ini termasuk ke dalam perkara gaib yang disampaikan langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika terdapat ayat Al-Qur’an atau hadits rasul yang sekilas dirasa belum atau tidak masuk akal, setiap muslim memiliki kewajiban mutlak untuk menerima dan mengimaninya karena hal tersebut merupakan bagian dari wahyu.

Mengenai peristiwa ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab sahih beliau nomor 3350. Penuntut ilmu seyogyanya memiliki kitab-kitab induk hadits yang dikenal sebagai Kutubus Sittah yaitu Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Sunan At-Tirmidzi, dan Sunan An-Nasa’i untuk diletakkan di lemari dan dibaca secara rutin setiap hari. Kebanyakan hadits yang beredar di tengah masyarakat bersumber dari kitab-kitab tersebut, sehingga penuntut ilmu minimal harus memahaminya dan tidak menghabiskan waktu hanya untuk membaca berita-berita di media sosial yang tidak ada habisnya.

Kecenderungan mengikuti hal-hal yang viral dapat memalingkan seseorang dari menyelesaikan kitab-kitab penting seperti Arba’in Nawawiyyah, Umdatul Ahkam, Bulughul Maram, atau Riyadus Shalihin. Penuntut ilmu harus menjaga fokus dan tidak terbawa arus. Di dalam hadits Sahih Bukhari tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَلْقَى إِبْرَاهِيمُ أَبَاهُ آزَرَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَى وَجْهِ آزَرَ قَتَرَةٌ وَغَبَرَةٌ

“Ibrahim akan berjumpa dengan ayahnya, Azar, pada hari kiamat, sementara di wajah Azar terdapat kehitaman dan debu.” (HR. Bukhari)

Secara kaidah tata bahasa Arab, kata Ibrahimu berkedudukan sebagai pelaku (fa’il) sehingga berharakat domah, sedangkan kata abahu berkedudukan sebagai objek (maf’ul bihi) menggunakan alif karena termasuk bagian dari Al-Asmaul Khamsah.

Melihat kondisi ayahnya yang mengenaskan, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam menyampaikan pernyataan bahwa dahulu beliau telah melarang ayahnya untuk memaksiati beliau. Azar kemudian memberikan jawaban:

فَالْيَوْمَ لَا أَعْصِيكَ

“Maka pada hari ini aku tidak akan memaksiatimu.” (HR. Bukhari)

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam kemudian memanjatkan doa dan mengadu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا رَبِّ إِنَّكَ وَعَدْتَنِي أَنْ لَا تُخْزِيَنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ فَأَيُّ خِزْيٍ أَخْزَى مِنْ أَبِي الْأَبْعَدِ

“Wahai Rabb, sesungguhnya Engkau telah berjanji kepadaku untuk tidak menghinakanku pada hari mereka dibangkitkan, lalu kehinaan mana yang lebih menghinakan daripada ayahku yang dijauhkan (dari rahmat-Mu)?” (HR. Bukhari)

Mendengar pengaduan dari Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ketetapan hukum yang tidak dapat diubah melalui firman-Nya:

إِنِّي حَرَّمْتُ الْجَنَّةَ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Sesungguhnya Aku mengharamkan surga bagi orang-orang kafir.” (HR. Bukhari)

Ketetapan ini membuktikan bahwa status sebagai orang tua dari seorang nabi sekalipun tidak dapat menyelamatkannya jika ia memilih mati dalam keadaan kafir. Setelah menyampaikan ketetapan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kembali kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam:

يَا إِبْرَاهِيمُ مَا تَحْتَ رِجْلَيْكَ

“Wahai Ibrahim, lihatlah apa yang ada di bawah kedua kakimu.” (HR. Bukhari)

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam kemudian mengarahkan pandangannya ke arah bawah, sebagaimana yang disebutkan di dalam kelanjutan hadits:

فَيَنْظُرُ فَإِذَا هُوَ بِذِيخٍ مُلْتَطِخٍ فَيُؤْخَذُ بِقَوَائِمِهِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ

“Maka beliau melihat, ternyata di bawahnya ada seekor dhibah yang berlumuran kotoran, lalu hewan itu ditarik kaki-kakinya dan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari)

Peristiwa pengubahan wujud Azar menjadi seekor hewan jantan yang berlumuran kotoran sebelum dilemparkan kedalam neraka jahanam merupakan bukti nyata dari kemahakuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah ‘Azza wa Jalla Maha Mampu untuk mengubah bentuk suatu makhluk menjadi bentuk makhluk yang lain sesuai dengan kehendak-Nya demi menegakkan keadilan syariat.

Azar diubah wujudnya lalu dilemparkan ke dalam api neraka. Kita berlindung kepada Allah dari siksaan tersebut. Peristiwa ini menimpa seorang ayah dari seorang nabi. Kenyataan syariat menunjukkan bahwa seorang ayah atau ibu dari seorang nabi sekalipun, apabila tidak beriman, tetap akan masuk ke dalam neraka.

Kondisi sebaliknya juga berlaku bagi anak seorang nabi yang memilih jalan kekafiran. Salah satu contoh nyata yang telah dibahas adalah putra Nabi Nuh ‘Alaihis Salam. Anak tersebut tidak mau menyambut seruan dakwah ayahnya, bahkan ia bersikeras untuk mencari perlindungan ke puncak gunung demi menghindari terjangan air bah. Akibat pilihan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpakan azab atas kekafirannya, sehingga ia binasa bersama orang-orang yang tenggelam. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan kisah memilukan ini di dalam Al-Qur’an:

وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

“Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.`” (QS. Hud[11]: 42)

Nabi Nuh ‘Alaihis Salam menunjukkan rasa sayang yang besar serta berusaha mendakwahi putranya agar mendapatkan keselamatan. Namun, sang anak memilih jalan kekafiran dan memberikan penolakan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ وَحَالَتْ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

“Anaknya menjawab: ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!’ Nuh berkata: ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah Yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Hud[11]: 43)

Gelombang besar akhirnya menjadi pembatas yang memisahkan antara seorang ayah yang berstatus nabi dengan putranya yang membangkang. Sang putra pun tewas ditenggelamkan bersama kaum yang membangkang lainnya. Fakta sejarah ini menjadi bukti kuat bahwa hubungan nasab atau pertalian darah sama sekali tidak berlaku di hadapan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala jika tidak dibarengi dengan keimanan. Kondisi yang sangat kontras akan dialami oleh orang-orang yang istikamah di atas keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan janji berupa kebahagiaan bagi keluarga yang sama-sama menjaga iman melalui firman-Nya:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.” (QS. At-Tur[52]: 21)

Berdasarkan ayat tersebut, orang-orang yang beriman akan dipertemukan dan dikumpulkan kembali bersama anak keturunannya di dalam surga kelak. Momentum tersebut menjadi ajang pertemuan mulia bagi orang tua dan anak-anak yang sama-sama beriman, bahkan mereka dapat saling memberikan syafaat. Ketika derajat orang tua berada di tempat yang lebih rendah di surga sementara derajat anaknya lebih tinggi, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkat derajat orang tua tersebut agar setara dengan anaknya, begitupun sebaliknya.

Poin utama yang menjadi prasyarat mutlak dari fasilitas tersebut hanyalah faktor keimanan. Pelajaran penting ini harus direnungkan oleh siapa saja, termasuk bagi anak seorang kiai, anak seorang ustaz, maupun anak seorang gus. Seseorang tidak boleh merasa aman atau merasa memiliki posisi dekat di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya karena faktor keturunan tokoh agama.

Ketegasan mengenai prinsip ini dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika menasihati Fatimah radhiallahu anha, putri yang paling beliau cintai. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan sebuah pernyataan bahwa beliau tidak dapat memberikan pembelaan atau manfaat sedikit pun di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala jika sang putri tidak beramal saleh secara mandiri.

Kematian Abu Thalib dalam Kekafiran

Prinsip ketidakberdayaan hubungan kekerabatan tanpa iman ini juga terlihat pada kisah Abu Thalib, paman kandung Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Meskipun Abu Thalib memiliki kedekatan nasab yang sangat kuat serta selalu membela dakwah keponakannya, ia tetap menolak untuk menyambut seruan Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Abu Thalib memilih wafat di atas kekafiran dengan mempertahankan agama nenek moyangnya, yaitu ajaran Abdul Muthalib. Akibat dari pilihan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap menjatuhkan hukuman azab kepadanya di dalam api neraka karena ia mati tanpa membawa kalimat tauhid.

Abu Thalib meninggal dunia di atas kekafiran dan di atas agama nenek moyangnya, yaitu ajaran Abdul Muthalib, sehingga ia diazab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam api neraka. Berdasarkan keterangan dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kabar mengenai kadar siksaan yang diterima oleh paman beliau melalui sabda beliau:

أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ وَهُوَ يَنْتَعِلُ نَعْلَيْنِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ

“Penduduk neraka yang paling ringan azabnya adalah Abu Thalib. Ia memakai dua sandal (dari api neraka) yang membuat otaknya mendidih.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bentuk siksaan tersebut merupakan kadar azab yang paling ringan di dalam neraka jahanam. Kenyataan ini menjadi gambaran logis mengenai betapa dahsyatnya bentuk siksaan neraka yang berkadar berat.

Selain kisah paman nabi, sejarah juga mencatat nasib memilukan dari istri Nabi Nuh ‘Alaihis Salam dan istri Nabi Luth ‘Alaihis Salam. Kedua wanita tersebut memilih untuk tidak merespon dakwah para utusan Allah yang merupakan suami mereka sendiri. Akibat pembangkangan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengazab keduanya di dalam api neraka. Kisah penolakan ini diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada mempunyai kekuasaan sedikit pun untuk membantu mereka dari (azab) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu): ‘Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).`” (QS. At-Tahrim[66]: 10)

Bentuk pengkhianatan yang dilakukan oleh istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth bukan terjadi pada masalah ranjang atau rumah tangga, melainkan pengkhianatan di dalam urusan haluan agama. Kedekatan hubungan pernikahan dengan hamba-hamba pilihan yang berstatus sebagai nabi terbukti tidak mampu memberikan manfaat atau pembelaan sedikitpun bagi mereka di hadapan azab Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wahai hamba-hamba Allah, segala bentuk hubungan nasab tidak akan pernah memberikan manfaat kepada pemiliknya jika tidak dibarengi dengan fondasi iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta komitmen untuk menyambut dakwah para rasul. Ketetapan ini meruntuhkan ego sebagian orang yang kerap berbangga diri dengan garis keturunan mereka. Hubungan nasab tersebut sama sekali tidak bernilai di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala jika sang pemilik nasab justru hidup jauh dari syariat.

Dampak buruknya akan menjadi jauh lebih parah apabila pengakuan terhadap kepemilikan nasab mulia tersebut ternyata palsu. Sebagian orang dengan sengaja mengaku-ngaku sebagai keturunan nabi atau memiliki darah rasul hanya demi menakut-nakuti masyarakat agar tidak berani mengkritik perbuatan mereka dengan ancaman kualat, padahal pengakuan tersebut merupakan sebuah kebohongan yang nyata.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan prinsip pemutusan nilai nasab pada hari kiamat melalui firman-Nya:

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup maka tidak ada lagi hubungan nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 101)

Prinsip keadilan akhirat ini diperkuat oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam sebuah hadits shahih:

مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barang siapa yang lambat amalannya, maka nasabnya tidak akan bisa mempercepatnya.” (HR. Muslim)

Hadits nomor 2699 di dalam Sahih Muslim ini menegaskan sebuah pernyataan hukum bahwa tingkat kecepatan dan keselamatan seorang hamba di akhirat ditentukan secara mutlak oleh kualitas amal salehnya sendiri, bukan oleh faktor kemuliaan garis keturunannya di dunia.

Larangan Mencela Seseorang Karena Perbuatan Kerabatnya

Berdasarkan prinsip keadilan di dalam syariat, tidak diperbolehkan bagi siapa pun untuk mencela orang lain karena faktor keadaan ayahnya, putranya, pamannya, atau istrinya yang berada di dalam kekafiran atau kemaksiatan. Larangan ini berlaku mutlak, terutama setelah orang tersebut sudah bersungguh-sungguh memberikan nasihat dan mendakwahi keluarganya.

Tindakan mencela seorang dai karena perilaku istri atau anaknya yang belum sesuai dengan nilai-nilai agama merupakan hal yang keliru, karena sang dai telah menunaikan kewajiban dakwahnya. Demikian pula, celaan tetap tidak dibenarkan meskipun seseorang belum sempat mendakwahi keluarganya karena berbagai kendala, seperti belum dimudahkannya jalan dakwah, faktor usia anak yang masih kecil, keterlambatan hidayah Islam pada diri mereka, ataupun karena sebab-sebab lainnya. Kesalahan satu individu tidak boleh dibebankan kepada kerabatnya, karena setiap manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan prinsip keadilan hukum ini di dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

“Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am[6]: 164)

Prinsip pertanggungjawaban individu tersebut dipertegas kembali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui firman-Nya di dalam surah yang lain:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).” (QS. An-Najm[53]: 39-40)

Pelajaran Penting dari Metode Dakwah Nabi Ibrahim

Pembahasan berikutnya beralih pada ulasan mengenai pelajaran, nasihat, serta ibrah yang dapat dipetik dari kisah perjuangan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam saat mendakwahi ayahnya, Azar. Nilai-nilai keteladanan yang termuat di dalam kisah tersebut berjumlah sangat banyak. Poin pertama di antaranya adalah urgensi kepemilikan sifat hilm (tidak mudah marah) dan sifat sabar di dalam mendakwahi orang tua.

Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam mencontohkan keluhuran budi pekerti ini dengan konsisten memanggil ayahnya menggunakan kalimat ya abati (wahai ayahku) sebanyak empat kali. Panggilan tersebut diucapkan dengan segenap kelembutan, kedewasaan adab, serta pancaran kasih sayang yang mendalam.

Meskipun demikian, respons yang diterima oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dari ayahnya justru merupakan kebalikan dari kebaikan tersebut. Azar membalas ketulusan putranya dengan kekerasan, sikap kasar, serta pengabaian. Pertanyaan bernada kecaman dari sang ayah diabadikan di dalam Al-Qur’an:

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

“Dia (ayahnya) berkata: ‘Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku dalam waktu yang lama.`” (QS. Maryam[19]: 46)

Ancaman kejam dari Azar yang hendak merajam Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dihadapi oleh beliau dengan penuh kesabaran. Realitas sejarah ini menjadi cerminan nyata bahwa aktivitas dakwah menuntut modal kesabaran yang luar biasa. Seseorang wajib melatih dan menguasai emosinya agar tidak mudah marah sebelum memutuskan terjun ke medan dakwah.

Seorang dai atau pengajar agama harus menyiapkan kesiapan mental secara matang. Pada hakikatnya, dakwah tidak memiliki ketergantungan kepada manusia, melainkan manusialah yang membutuhkan ladang pahala dakwah tersebut sebagai bentuk ibadah dan penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, keteladanan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam wajib dijadikan sebagai standar acuan bagi para pengemban dakwah.

Etika Dakwah kepada Orang Tua dan Teladan Nabi Ibrahim

Seorang anak yang ingin mendakwahi orang tuanya wajib mengedepankan sikap lemah lembut, kesabaran, serta menghindari tindakan kasar. Upaya ini dilakukan dalam rangka meneladani metode dakwah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam kepada ayahnya. Aktivitas membaca Al-Qur’an tidak boleh sekadar menjadi rutinitas bacaan, melainkan harus berfungsi sebagai panduan untuk mencontoh figur-figur mulia.

Selain meneladani Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, umat Islam juga harus mencontoh kegigihan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat mendakwahi pamannya, serta meniru kesabaran sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sewaktu menghadapi ibunya.

Kisah Perjuangan Dakwah Abu Hurairah kepada Ibunya

Kisah perjuangan dakwah ini tertuang di dalam kitab Sahih Muslim nomor 2491. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan pengalamannya:

كُنْتُ أَدْعُو أُمِّي إِلَى الْإِسْلَامِ وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فَدَعَوْتُهَا يَوْمًا فَأَسْمَعَتْنِي فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَكْرَهُ

“Dahulu aku pernah mendakwahi ibuku untuk masuk Islam ketika ia masih musyrik. Pada suatu hari, aku kembali mendakwahinya, namun ia justru memperdengarkan kepadaku kata-kata tentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sangat aku benci.” (HR. Muslim)

Tindakan sang ibu yang mencela Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membuat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berada di dalam situasi dilema yang mendalam. Di satu sisi, ia sangat mencintai ibunya, namun di sisi lain, ia tidak kuasa mendengar pribadi mulia Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dicaci maki. Kondisi dilematis ini kerap dialami oleh setiap anak yang mulai mengenal Islam dan sunah ketika berhadapan dengan anggota keluarga yang masih jauh dari nilai-nilai agama.

Akibat kesedihan yang mendalam, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sembari menangis, lalu mengadu:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أَدْعُو أُمِّي إِلَى الْإِسْلَامِ فَتَأْبَى عَلَيَّ فَدَعَوْتُهَا الْيَوْمَ فَأَسْمَعَتْنِي فِيكَ مَا أَكْرَهُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَهْدِيَ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku dahulu selalu mendakwahi ibuku untuk masuk Islam, namun ia selalu menolak. Hari ini aku mendakwahinya lagi, tetapi ia justru mengucapkan kata-kata yang aku benci tentang dirimu. Oleh karena itu, mohon berdoalah kepada Allah agar Dia memberikan hidayah kepada ibunya Abu Hurairah.” (HR. Muslim)

Mendengar pengaduan yang tulus dari sahabatnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam langsung mengabulkan permintaan tersebut dengan memanjatkan doa:

اللَّهُمَّ اهْدِ أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ

“Ya Allah, berikanlah hidayah kepada ibunya Abu Hurairah.” (HR. Muslim)

Setelah mendengar doa tersebut, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beranjak keluar meninggalkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan perasaan penuh suka cita dan bahagia karena meyakini keberkahan doa nabi-Nya.

Saat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tiba di depan pintu rumahnya, pintu tersebut dalam kondisi tertutup. Di saat yang sama, sang ibu mendengar bunyi gesekan langkah kaki anaknya yang datang, sehingga dari dalam ruangan ia berseru:

مَكَانَكَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ

“Tetaplah di tempatmu, wahai Abu Hurairah!” (HR. Muslim)

Perintah tersebut meminta Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu untuk menunggu sejenak di luar dan tidak langsung melangkah masuk ke dalam rumah.

Dari luar pintu yang tertutup, terdengar bunyi gemercik air yang menandakan bahwa sang ibu sedang mandi. Setelah selesai membersihkan diri, ia mengenakan kerudung atau jilbabnya, lalu membuka pintu rumah. Begitu pintu terbuka, ia langsung mengucapkan kalimat syahadat:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” (HR. Muslim)

Mendengar ikrar keislaman ibunya, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu langsung berbalik arah untuk kembali mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dorongan rasa senang dan bahagia yang teramat besar membuat dirinya menangis. Jika pada kedatangan pertama ia menangis karena duka, pada kedatangan kali ini ia menangis murni karena luapan kebahagiaan.

Di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan kabar gembira tersebut:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَبْشِرْ قَدِ اسْتَجَابَ اللَّهُ دَعْوَتَكَ وَهَدَى أُمَّ أَبِي هُرَيْرَةَ

“Wahai Rasulullah, bergembiralah! Sesungguhnya Allah telah mengabulkan doamu dan telah memberikan hidayah kepada ibunya Abu Hurairah.” (HR. Muslim)

Mendengar berita tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam langsung memuji serta menyanjung Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian mengucapkan perkataan-perkataan yang baik. Peristiwa ini menjadi bukti nyata dari buah manis sebuah kesabaran. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sama sekali tidak membentak ibunya ketika dicela, melainkan memilih untuk bersabar dan mengadukannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar didoakan.

Pelajaran Penting Mengenai Kekuatan Doa dalam Dakwah

Kisah mulia ini memberikan pelajaran berharga mengenai urgensi doa di dalam dunia dakwah. Ketika seorang hamba menyayangi orang lain namun orang yang disayangi tersebut justru tenggelam di dalam maksiat atau menjauh saat didakwahi, tindakan terbaik yang harus dilakukan adalah mendoakannya.

Penolak yang membalas dakwah dengan bentakan atau kebencian tidak boleh dihadapi dengan kemarahan yang sama. Seorang dai harus menahan emosi dan beralih memohonkan hidayah bagi mereka di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana yang dicontohkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang meminta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mendoakan ibundanya. Banyak sekali pelajaran di dalam kisah ini yang wajib diperhatikan untuk kemudian diamalkan di dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajianKisah Nabi Ibrahim Mendakwahi Bapaknya” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56326-kisah-nabi-ibrahim-mendakwahi-bapaknya/